Lika Liku Perekrutan Pegawai Negeri Sipil

3

Category : tentang Opini

Test masuk CPNS Badung beberapa waktu lalu ricuh, karena yang lolos masuk, sebagian besar merupakan keluarga pejabat berpengaruh. Ini sudah bukan rahasia lagi di mana-mana.
Semua sudah maklum, kalo gak punya koneksi, mana bisa masuk ? Aku sendiri, kalo dibilang masuk mulus saat ujian 2003 lalu, gak juga, karena ada satu orang yang kebetulan menantang aku untuk ikut serta dalam testing, yang kalo masuk dalam kategori diatas rata-rata nilai yang diperlukan, Beliau berjanji bakal memperjuangkan aku untuk bener-bener lolos.
Ironisnya, banyak orang yang mencoba menawarkan Beliau, dari buah-buahan segar, paket kebun, sampe amplop ratusan juta, gak ada yang masuk satupun lantaran gak berhasil masuk rate tadi.
Jadi, satu keberuntungan, aku bisa lolos tanpa harus menyiapkan uang yang kata seorang teman yang juga lolos, dia harus bayar uang 75 juta. Duuuuh..
Namun tetap saja ini menjadi satu beban bagiku, untuk membuktikan bahwa aku mampu untuk diterima disini.

Lantas bagaimana yang lainnya ? Masuk lantaran orang besar juga ?
Syukur masih ada satu dua orang yang memang benar-benar berpotensi di bidangnya, mampu untuk memberikan kontribusi yang baik bagi instansi dimana ia ditempatkan.
Tapi ada juga yang mentang-mentang, lalu sok, karena Bapaknya adalah seorang anggota Dewan yang saat ini masih aktif menjabat.

Seperti yang diberitakan di koran tempo lalu, ada seorang CPNS yang agak sakit pikiran, duduk seenaknya di kursi Ketua Dewan, mencolek pantat Sekpri hingga hampir dibogem anggota Dewan karena kelakuan buruknya. Pengalamanku saat ikut Pra Jabatan setahun lalu, memang benar adanya hal-hal seperti kusebut diatas, namun sekali lagi, bagiku itu wajar.

Wong anak pejabat kok.

Lantas diskriminasipun terjadi.
Di masing-masing instansi yang ditempati gak jarang anak-anak pejabat ini didahulukan kepentingannya, sedangkan yang gak jelas asal-usulnya bisa diberikan nomor antrean paling buncit. Atau seperti yang kualami saat menginjakkan kaki di ruang atasan, aku dikenalkan pada orang-orang yang merupakan titipan pejabat saat itu.
Saat aku balik ditanya, aku katakan, No One. Biar deh, mereka tau sendiri siapa yang berperan besar menghadirkanku diantara mereka.

Sialnya, gak semua anak pejabat bisa bekerja dengan baik.
Akhirnya saat meminta tolongpun, harus dipikirkan kembali, ‘kamu itu siapa, aku ini siapa… kok enak-enak minta tolong ?

Sekali lagi, gak semua seperti itu, ada juga yang orang dibelakangnya bahkan jauh lebih besar, karena sudah ditingkat Pusat  Jakarta, tapi orang-orang ini tetap low profile, berdedikasi tinggi pada pekerjaannya, dan masih mau menawari bantuan saat aku sedang kesulitan.
Nah kan.

Comments (3)

Pos sangat baik, saya sudah bookmark situs ini.

[Reply]

Kayaknya anak pejabat itu saya tau wkwkwkwwkw

[Reply]

pande Reply:

errr… yang mana ? :p

[Reply]

Post a comment

CommentLuv badge