Tentang Istri seorang PanDe Baik

‘Istri yang Pertama, Karir boleh nomor Dua’
Setelah capek bercerita panjang lebar tentang masalah-masalah yang muncul disekitar kita, ada juga baiknya aku ingin memperkenalkan kehidupan pribadiku pada orang lain, yang jujur saja aku banggakan.

Namaku Pande, oleh orang rumah dipanggil dengan nama kecil, ik.
Oleh teman-teman SD aku dipanggil Wibawa.
Teman SMP sempat pula memanggilku Pande Kodok.
Teman SMA kembali memanggilku Dok. (bukan Dokter, hehehe…)
Saat kuliah, nama Pande lebih dikenal hingga sampe aku kerja saat ini.
Nama panjangku, Pande Nyoman ArtaWibawa.

Tapi oleh Mantan Pacarku yang ke-3 sekaligus Istriku kini, aku dipanggil Kakak. Nama yang ga ada hubungannya sama sekali.

Jujur, aku begitu bangga pada Istri, bukan karena dia pintar segala hal, karena jujur saja Istri lebih milih ngebersihin rumah, ketimbang diminta masak di dapur. Tapi ada hal yang membuat aku begitu bangga jalan dengannya, bahkan kuajak ke acara-acara pernikahan teman, yang walaupun mengundang decak heran, karena kami secara visual bukanlah pasangan serasi. Aku tinggi besoar, sedangkan Istri mungil. Tapi itu mungkin yang namanya Jodoh.
Semogaaa…

Nama Istriku, Alit Ayu Kusumadewi.
Yang oleh teman-teman kami, memanggilnya Alit, tapi oleh orang rumah dan aku, memanggilnya ALe.

Lahir mungil, dengan senyum ramah dan pribadi yang tulus.
Terkadang suka ngambek, apalagi kalo ada yang ngomong, masalah cowok itu tukang selingkuh, weleh, bisa-bisa semingguan aku juga dituduh suka selingkuh. Hehehe…

Kami berdua sama-sama anak bungsu, jadi kalo inget-inget artikel majalah remaja, sesama bungsu kalo ngumpul pasti rame. Itulah kehidupan keseharian kami.

ALe yang aku kenal, sedari awal adalah gadis yang membuat aku Falling in Love at First Sight, Jatuh Cinta pada Pandangan Pertama. Entah apa yang membuatku begitu nyaman jika berada didekatnya, dan begitu kebingungan saat jauh dengannya.

Orang boleh berkata, gak kuat harus makan ayam tiap hari, sekali-kali boleh dong makan sapi, burger, dll..
Jadi bisa dibilang, adalah hal yang wajar jika suami itu berselingkuh, mencari perbandingan, atau malah sebagai pelarian ?

Aku pribadi, bisa dibilang munafik bagi orang lain. Karena dari dalam diri, gak ada keinginan untuk selingkuh atau mengkhianati Istri, karena aku percaya pada KarmaPhala, dimana seandainya aku berselingkuh, Istriku pun pasti punya keinginan seperti itu. Aku gak ingin itu terjadi.

Lagipula, aku mendapatkan Istri bukan dengan jalan yang mudah, begitu banyak tantangan yang harus kuhadapi, hingga kami bisa menikah 10 Desember lalu. Jadi bukan satu alasan bagiku, untuk semudah itu berpaling pada wanita lain, walaupun itu semulus dan secantik foto-foto porno yang aku koleksi saat remaja dulu.

Aku bangga pada Istriku ALe, karena dia mengerti dan memahami keseharianku, yang agak malas, namun bisa begitu maniak pada hal-hal yang berbau komputer, ga jarang pula dia menemani aku saat bekerja, atau bahkan kami berkompetisi maen gim yang ada di pda-ku.

Kemesraan kami, tidak hanya terjadi di ruangan sempit 3×3 meter saja, namun bisa sampai dihadapan orang lainpun kami bisa saling memegang tangan dan bahkan mencium kening dan tangan sebagai wujud tanda Sayang dan Setia.
What a Wonderful World, deh.

Istriku juga lucu, dia itu ‘lutu tetali’ kata keponakan-keponakanku yang masih kecil dan cadel. Sangat suka anak-anak, itu sebabnya kini nama Tante Alit lebih banyak didengar daripada namaku, ugh…

Perhatiannya pun gak hanya sebatas tembok pagar rumahku yang cuman 1,8 meteran.
Dari makan, penampilan atau bahkan cara bersopan santun pun ia ajarkan.

Sungguh, aku beruntung mendapatkan ALe sebagai Istriku, dan memang ini sangat-sangat sesuai dengan impian dan cita-cita ku sebelum memutuskan untuk menikah di usia 27 tahun.

Mendapatkan seorang teman untuk berbagi dalam tawa canda susah dan tangis, dan sebagai pendorong, agar aku cepat-cepat pulang kerumah, karena Istriku akan dengan setia menanti kepulanganku.

Oya, jika bagi kalian, aku munafik itu wajar.
Tapi aku ungkapkan ini pada orang lain, demi mengingat usia pernikahan kami yang sudah 6 bulan pada tanggal 10 Juni lalu, dan ingin menularkan Cinta Kesetiaan pada teman-temanku, bahwa Satu Cinta Cukup Untuk Selamanya.

(12 Juni 2006 ; dari ik untuk ALe)

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik