X

Khayalanku tentang Keyakinan

Senin, 12 Juni 2006, malam hari, kami sekeluarga bersembahyang di Pura deket rumah, rutinitas setiap Kajeng Kliwon.
Awalnya ada rasa bahagia masih bisa sembahyang bareng keluarga, namun sesampainya di Pura, rasa bahagia ini sedikit demi sedikit mengikis karena hal-hal kecil yang mungkin saja akan membesar satu saat nanti.Penghayatan pada Agama, aku yakin masih banyak orang yang tidak mengerti akan arti dari masing-masing baik Tri Sandhya yang kami lafalkan sejak kecil hingga kini. Jadi, ada yang melafalkannya begitu saa, seingatnya atau penuh tekanan tinggi rendah, tapi apakah kita tau apa arti yang terkandung didalamnya ?
Sama halnya jika kita menyanyikan lagu artis luar, bisa menyanyikan, tapi pas ditanya artinya, malah bilang gak tau, huehehe….
Jadi gak salah kalo ada beberapa kata malah gak bener pengucapannya.

Orang yang datang ke Pura pun, mungkin gak semuanya bisa taat pada Agamanya, seperti aku, yang kata Guru Agama dulu di sekolahan, sembahyang 3 kali sehari.
Pagi, siang dan sore. Kalo perlu ditambah sebelum tidur.
Tapi apakah kita sudah melakukan itu ?
Pagi, mungkin hanya segelintir orang yang masih bersembahyang di Merajan Rumah, karena diuber-uber waktu berangkat kerja, apalagi bangun kesiangan.

Di Kantor pun, seumpama ada pemutaran Tri Sandhya lewat corong di masing-masing ruangan, hanya sedikit yang mau duduk diam dan berkonsentrasi, sedang yang lainnya tetap asik mengerjakan tugas dan kewajibannya.
Siang, di kantor-kantor pemerintahan, pemutaran kembali dilakukan, hanya sayang, banyak orang yang makan siang, tentunya sudah berada di luar kantor bahkan sebelum jam makan siang sudah pada kabur.
Sore sepulang kerja, dengan alasan capek atau mungkin sudah lupa, dan malam sebelum tidur, wah boro-boro deh, kalo gak ngantuk atau kecapekan begadang nonton bola, baru deh sempat melakukan doa malam sebelum tidur.

Gak hanya itu, gak jauh dari tempat aku duduk, menunggu giliran sembahyang, berhubung tempatnya sempit sedangkan orangnya melebihi kapasitas, ada 2 orang anak yang aku tahu, sudah kelas 6 SD, asyik bercanda pukul-pukulan sambil sesekali tangannya tercakup namun entah apakah itu serius atau tidak, sementara yang lain tetap berusaha berkonsentrasi pada doanya.
Mungkin sambil menyelam minum air, sambil sembahyang bisa bercanda juga.
Aku yakin itu gak hanya terjadi disini, anak-anak belum dididik bagaimana bersembahyang yang baik.

Makin modernnya jaman, menyebabkan banyak barang-barang instant yang dijual, bahkan sampai pada sarana Canangpun sudah marak dijual di pinggir jalan sekitar pasar atau lokasi Pura.
Sudah jarang aku melihat Ibu-ibu membuat Canang sendiri, yang akan dihaturkan nantinya. Mungkin karena kesibukan keseharian, bekerja pulang ngantor sampe sore.
Yang lebih bikin senyum di hati, gak jarang botol-botol kosong Coca Cola dan minuman sejenisnya, berubah fungsi, dipakai sebagai tempat sarana Tetabuhan yang isinya Arak Berem.

Yah, semoga saja apa yang aku lihat gak seburuk yang aku bayangkan di masa depan, dan semoga juga apa yang menjadi bahan candaan kami selama ini gak benar adanya, bahwa panjang pendeknya mantra yang dilafalkan oleh Pemangku, tergantung pada besar kecilnya Sesari yang dihaturkan Umat. Huehehe….

Categories: tentang KeseHaRian
pande: hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik