Survey Keluarga Pra-Sejahtera Tahun 2006

Sabtu 10 Juni kemaren, aku bareng istri jalan ke lokasi Keluarga Pra Sejahtera, kebetulan dapet tugas dari atasan di kantor, Ibu Sumerti, Kabag Umum Dinas Bina Marga dan Pengairan Badung, yang minta aku untuk survey penjajagan terlebih dulu, ke lokasi keluarga Pra sejahtera yang mendapatkan bantuan masing-masing sebesar 5,5 juta dari Pemkab Badung, untuk 2 orang kepala keluarga, dan instansi kami menjadi Bapak Angkatnya yang bertugas untuk mengawasi dana tersebut bisa digunakan dengan benar.

Berangkat pagi jam 8 lewat, dengan berboncengan mesra bareng si Silver Tiger yang baru aja di cat ulang, akhirnya nyampe juga di rumah Kepala Desa, berhubung kantornya tutup karena hari Sabtu.

Melihat apa yang ada di depan mata, membuat kami berdua ternganga, karena selain halaman yang luas, khas rumah tinggal tradisional (Jeroan), dihiasi pula dengan style Bali kuno, yang benar-benar dijaga oleh Pemiliknya. Oya, kami berada di Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung, Propinsi Bali.

Setelah mendapat ijin dari Beliau, kami berdua langsung menuju kedua lokasi keluarga yang berada dibanjar Desa dan banjar Dalem. Suatu pengalaman berartipun menanti kedatangan kami…

Menilik lokasi keluarga pra Sejahtera di Banjar Desa, Desa Angantaka, Kecamatan Abiansemal ternyata membuat kami -aku dan istri- trenyuh, dan menyadari kalau keberadaan kami masih jauh lebih baik dari mereka.Tuhan rupanya berkenan pada kami untuk bisa menyaksikan kemiskinan pada satu Keluarga di Pulau Bali ini, yang kata orang mungkin sudah gak memikirkan kesehariannya lagi lantaran sudah banyak dollar di tangan.

I Made Darma, keluarga pertama yang kami kunjungi, menempati 2 bangunan kecil yang kalo dilihat lagi, tergolong Keluarga Miskin versi Dinas Sosial, sementara kakak kandungnya tinggal di 3 bangunan lain yang masih ada dalam satu pekarangan, dengan kondisi yang terus terang saja jauh berbeda dengan kondisi yang tentunya jauh lebih baik dan lebih bersih.

Satu hal yang dapat kami ambil kesimpulan dari wawancara singkat dengan putra kedua Beliau, bahwa kondisi ini terjadi karena konflik keluarga internal mereka, sehingga selama 10 tahun terakhir, perekonomian keluarga mereka lebih ditanggung oleh tetangga depan rumah mereka yang terlihat memiliki sebiji mobil kijang, dibanding oleh keluarga kakak kandung I Made Darma.

Tapi ada juga keraguan kami pada keluarga ini, apakah konflik yang terjadi karena faktor malas untuk bekerja, entahlah.yang pasti, saat kami sampai dirumah mereka jam 9 kurang, putra kedua mereka, Joyo Adnyana, mahasiswa semester akhir Fakultas Teknik Udayana Ekstensi, baru saja dibangunkan dari tidur, oleh sepupu mereka yang tentunya sudah rapi dan necis.

Bertolak ke lokasi keluarga Pra Sejahtera kedua, di Banjar Dalem desa yang sama, kami berkesempatan melihat pintu masuk yang sangat sangat sangat sederhana, jika dibandingkan dengan lingkungan sekitarnya.

I Nyoman Rida, keluarga dengan 2 orang putra yang masih duduk di bangku SD, plus 2 orang kakak kandungnya yang sudah tua namun belum juga menikah, menempati 2 bangunan tua yang belum diplester dan masih berupa tembok campuran bata dan batako.

Keluarga ini terdengar lebih beruntung, karena memiliki pekerjaan walaupun sebatas Buruh Tani, namun melihat kondisi mereka kami rasa memang berhak untuk mendapat bantuan 5,5 juta tadi.

Akhirnya saat jam menunjukkan pukul 10, kami pamitan pada mereka untuk kembali pulang kerumah kami yang masih sangat jauh lebih baik dari yang kami saksikan tadi.Sepanjang perjalanan, Istriku sempat berkata, jauh benar perbedaan antara masyarakat desa tadi dengan pimpinan mereka, sang Kepala Desa…

pande

hanyalah seorang Pegawai Negeri Sipil yang sangat biasa, mencoba hadir lewat tulisannya sebagai seorang blogger yang baik